11.5.13

Panggilan Sayang?!

it's been long since my last post! HELLO

Eh btw, ini bukan kaya yang lo agak bayangkan panggilan sayang orang pacaran gitu sih bukan beb say hun lalala etc au ah gue gak punya pacar kok, tenang aja bro. HAHAHA

Sebenernya udah lama kepikiran mau ngepost ini tapi apa daya gue males banget dan ditambah tugas labschool itu penjara remaja. Hari ini gue mau ngeshare tentang nama panggilan. Biasa banget sih, tapi menurut gue unik aja gitu punya nama panggilan sendiri.

Di keluarga gue, keluarga bokap khususnya punya nama panggilan sendiri-sendiri. Bahkan, dari bibi dan mamang gue (om dan tante). Jadi, om gue namanya mang ndoy sm mang itoy/didot yang punya nama asli Tubagus Dody dan Tubagus Syamsul. Trs bibi gue bibi dedeh padahal nama aslinya Ratu Ayu. Ya lumayan jauh lah ya...

Awalnya pas kecil sih gue biasa aja ya sama ky gini org gangerti juga.. Tapi belakangan gue mulai kepikiran kenapa nama panggilannya jadi kaya gitu.. Malah ada yang jauh. Even, gue dan sodara-sodara gue punya nama panggilan tambahan kalo di keluarga bokap ini. Gue bikin aja deh :

1. Ratu Shafira Hanifah : Avie (normal), apipot/pipot (my dad's fam). And btw pipot sounds a bit like pispot :(
2. Tubagus Rifqi Hanif: Rifqi/Tebe (normal), akiki (my dad's fam)
3. Risyad Ammar Natadiningrat : Risyad (normal), iced - it's icet not iced kaya bahasa inggris ya (my dad's fam)
4. Ratu Nayasza Atikah M. : Naya (normal), ninoy (my dad's fam)
5. Ratu Sheika Hadisyah H. : Sheika (normal), ceko/cheko (my dad's fam)
6. Tubagus Edza Nabil M. : Edza (normal), nja (my dad's fam)
7. Dzaki Emirsyah: Dzaki (normal), zac (my dad's fam)
8. Emirsyah Ramzi Natadiningrat: Emir (normal), eymir (my dad's fam)

Itu panggilan-panggilannya. Sebenernya yang jadinya paling bagus cuma dzaki, dan yang paling jelek ya gue.. Orang nama gue tuh udah keren-keren gitu ya a-v-i-e, avie. Pake v dan pake e, eh malah jadi apipot sm pipot juga. Oh iya, tambahan dr nyokap, panggilan gue dr nyokap itu apoy.. Kaya gitarisnya wali tau gak sih :( miris tau

Cuma, punya nama panggilan dari keluarga itu ya lucu. Rasanya kaya yang boleh dan bisa manggil gue pake nama itu tanpa gue merasa dikatain ya cuma keluarga gue sendiri.. Yang bikin gue ngerasa makin deket ya karena adanya panggilan itu, panggilan sayang, serasa special gt #aziq #a6 



Hihi yasudah ya udh gue hrs ngerjain tik baru 27 kata woy harusnya 2500.. 
BYE-BYE-SEA YAA SOON

28.12.12

♕ ♥ ♔

"It's kind of easy when you got nothing, because nothing can't be taken away from you. But I don't want nothing anymore. For the first time in my life I felt like someone actually gave a shit, and that person was worth trying for. I fucked up big time, I'm more than sorry. I love you Jal, my whole world."   
- Chris Miles

PELANGI DI BALIK AWAN


Hai! Ini cerpen yang gue tulis buat tugas sekolah. Gue tau sih emang masih pemula, tapi gue cuma pengen post. Siapa tau gue punya tulisan lain, dan tulisan ini jadi bukti perkembangan atau penurunan kualitas tulisan gue. Judul cerpennya adalah Pelangi Di Balik Awan. Enjoy!

Anak-anak yang lugu, polos, dan ceria berlarian tanpa henti di depanku. Mereka berlari dari satu pohon, ke pohon lainnya, bersembunyi di atas pohon, di balik gorong-gorong, semua tempat yang dapat mereka capai dengan berlari. Sesekali mereka mengajakku untuk ikut ke dalam permainan petak umpet itu.
Saat ini aku sedang berada di wilayah utara Jakarta. Bagian dari Jakarta yang dianggap kumuh, dan penuh dengan warganya yang kurang mampu. Diriku teringat akan saat pertama kali tempat ini “ditemukan”.
Aku kembali dari rumah nenek bersama Lila. Kami sedang melewati jalan di sebelah kali. Situasi lalu lintas sangatlah lancar. Hingga… Seorang anak berlari di depan mobilku. Aku seketika mengerem dan mengklakson anak itu. Mengapa berlarian di jalan raya? Ia pun tersentak dan menangis, seraya membawa dedaunan dengan kedua tangannya. Aku pun menepi, ia pun menghampiriku. Aku membuka kaca mobilku.
“Hoy anak kecil! Jangan asal lari dong! Untung ga ketabrak!” Emosiku memuncak.
“M..m..aaf kak.. A..a..ku.. Temenku ke..tusuk kak, ditusuk sama preman aku harus bantu dia” Wajahnya sangat pucat.
“HAH? Ya ampun! Temennya dimana? Jauh gak?”
“Engga kak, jalan kaki dari sini”
“Yaudah kita jalan sekarang! Ayo Lil!”
Aku pun mengunci mobilku dan mengikuti anak kecil itu bersama dengan Lila. Saat berjalan menuju tempat anak itu, aku mencium bau tak sedap dari sekelilingku. Sampah bertebaran dimana-mana, aku pun mulai menginjak sampah-sampah.
“Oh iya, aku lupa tanya nama kamu. Nama kamu siapa?”
“Guntur kak. Kakak?”
“Aku Aira”
Tak lama, kami pun sampai di sebuah tempat. Bukan tempat spesial, hanyalah pos ronda. Di sana banyak anak-anak yang mengerumuni seorang anak laki-laki berumur kira-kira 10 tahun. Badannya terluka parah, ia terkujur dengan lemas. Aku langsung mengangkatnya menuju mobil bersama Lila dan Guntur. Kami pun mengunjungi rumah sakit terdekat.
Setelah melalui penanganan, anak itu pun sehat. Aku pun akhirnya tahu bahwa nama anak itu adalah Dito.
“Dito udah sekolah?” Tanya aku pada Dito
“Dito engga sekolah kak”
Aku pun tidak bertanya lebih lanjut, aku pikir aku sudah tahu jawabannya.
“Kalau kakak ajarin, Dito mau?”
“MAU!” “AKU JUGA KAK!”
Mereka berdua sangat bersemangat.
Setelah penyembuhan Dito, kami pun kembali ke pos. Kemudian aku dan Lila membawa alat sekolah seperti alat tulis dan buku catatan. Saat itulah kami pertama kali berkenalan dengan semua anak, yang totalnya berjumlah 8.
Dan hari ini genap satu bulan setelah penyembuhan Dito. Aku dan Lila sudah mengajari mereka banyak hal. Karena umur mereka berkisar antara 8-12 tahun, dan semuanya mengaku belum pernah sekolah maka aku mengajari mereka dari yang paling dasar.
Untuk matematika, aku mengajari mereka kali bagi tambah kurang atau kalibataku. Ipa, aku mengajari mereka jenis-jenis hewan, anggota tubuh manusia, semuanya aku berikan gambar yang besar. Bahasa inggris sedikit demi sedikit aku ajarkan mereka perkenalan nama, umur, kelas, dan lainnya. Bahasa Indonesia aku mengajari mereka awalan dan akhiran, huruf kapital, dan banyak lainnya. Ips, aku mengajari mereka sejarah dengan cara cerita dengan gambar. Aku meminta Lila untuk menggambar sedangkan aku yang menceritakannya. Untuk PKn aku mengajari mereka bagaimana menjadi warga Negara yang baik, menaati peraturan, karena menurutku lebih baik mengajari untuk praktek kehidupan dibandingkan banyak teori yang pada akhirnya pun dilupakan.
Aku ingin proses belajar mereka tidak sekedar “yang penting nilai bagus, asal udah ulangan, ya lupa” seperti yang disunggingkan banyak siswa Indonesia belakangan ini. Aku menegaskan kepada mereka bahwa aku sangat berharap mereka mengerti pelajaran sampai ke akarnya. Aku tidak akan segan untuk mengajari mereka ulang apabila mereka belum mengerti. Sejujurnya, aku memiliki harapan tinggi pada anak-anak ini.

☂☂☂☂☂

Jum’at ini tak secerah biasanya. Perasaanku pun tidak enak. Kalau hujan, aku tak bisa mengajari mereka, seperti waktu dahulu. Aku tidak mau kembali ke rumah dengan hati tidak bahagia, karena tidak dapat mengajari mereka apapun.
Kali ini aku membawa Kisha bersamaku. Ia adalah anak bungsu dikeluargaku. Kisha sudah berkali-kali meminta padaku untuk diantarkan pada anak-anak ini.
“Mbak Lila, ayo dong kapan lagi ke sana? Hari Senin, Rabu atau Jum’at? Kisha mau ikuut ayo mbaak!”
Kami pun sampai pukul 11 siang. Langit mendung, angin menghembuskan kemarahannya. Aku sangat khawatir.
“Kok kaya gini sih mendung banget? Emang cuacanya kaya gini ya?”
Engga Kish. Engga kaya gini biasanya.
Aku tidak menjawab pertanyaan Kisha, tetapi aku langsung menuju pos. Untungnya mereka sudah ada di sana. Aku membawakan mereka makanan. Guntur lari ke arahku.
“Kak Airaa! Temenku nambah dua yang mau belajar sama kakak. Boleh engga kak?”
“Oh! Boleh kok Tur!”
“Horee! Namanya Rani sama Rino  Kembar kak! Eh..” Dia memintaku menunduk. Lalu ia membisikanku “Itu yang pake rok pendek, baju putih siapa sih kak?”
Aku tersenyum. “Nanti aku kenalin sama semuanya. Udah, sekarang kamu ke pos ya”
Sambil memegang Pizza di tangan, kami disambut dengan ceria oleh anak-anak itu.
“Selamat siang kak Airaa!”
“Wah ada makanan!”
“YEAY! Makan gratis lagi!”
Dito dan Bima menari-nari seperti orang dangdutan. Aku dan Kisha tertawa.
“Ada kakak yang cantik juga!”
Kali ini aku menyenggol Kisha. Ia malu-malu.
“Baik adik-adik, hari ini kakak bawa seorang yang apa tadi? Cantik yaa?”
“Iya kaaak!” Anak-anak menjawab dengan serentak
“Kakak ini adiknya Kak Aira, namanya Kak Kisha!”
“Halo Kak Kishaa!”
Dengan malu-malu, adik bungsuku pun menjawab “Hai semua..”
Perkenalan itu berlangsung dengan menyenangkan. Aku pikir, perasaan burukku tadi sekedar perasaan yang tidak ada artinya. Langit pun mulai kembali cerah. Artinya tak ada lagi yang harus aku khawatirkan.
Sekarang semua berlangsung dengan menyenangkan. Hari ini kami belajar ips, dan yang membantuku menggambar adalah Kisha. Aku juga melihatnya bisa langsung dekat dengan si kembar yang bahkan aku pun belum kenal dekat dengan mereka.
Kami pun makan siang bersama. Setumpuk pizza bertopping meat lovers dan beeforn kami nikmati bersama-sama. Tetapi, aku mulai merasa firasat burukku benar adanya. Sekelompok bapak-bapak berpakaian hijau dengan sepatu hitam tinggi mendatangi kami.
“Eh ini ngapain pada di sini?”
Aku pun menjawab, “Lagi makan pak, tadi habis belajar”
“Lah siapa yang kasih izin? Emangnya boleh belajar atau apalah, pake tempatnya disini?
“Kami disini udah lama kok pak. Dan selama ini juga gak kenapa-napa. Jadi saya pikir tempat ini layak pakai”
“Ini tempat saya jaga, saya hansip disini”
“Bukannya bapak jaganya malem ya pak?” Sekarang giliran Kisha yang bertanya.
“Lah, wong ini tempat saya ya suka-suka saya dong”
“Tapi pak, kami gak ganggu tugas bapak kan? Mending kita rundingin dulu pak.” Aku berdiri menghampiri bapak hansip itu.

☂☂☂☂☂

Aku berbicara dengan 2 orang bapak-bapak berpakaian hijau, merundingkan tempat itu. Memang benar itu pos hansip, dan merupakan hak milik hansip. Mungkin aku juga yang salah dengan langsung menggunakannya tanpa meminta izin. Dalam pembicaraan, bapak-bapak ini terus menyalahkanku. Menyalahkan mengapa tempat mereka yang dipakai. Aku pun menjelaskan bahwa tidak ada tempat lain untuk belajar, tetapi mereka tidak peduli akan itu.
Hasil akhirnya, kami harus mencari tempat baru. Untungnya, bapak-bapak hansip ini mau memberi dispensasi 5 hari untuk mencari tempat (itu pun setelah aku minta dispensasi pada mereka). Tentunya, aku belum memberitahu Kisha dan anak-anak itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sedih dan kecewa dalam diri mereka. Aku tidak ingin itu terjadi. Saat ini, aku benar-benar bingung apa yang harus ku katakan pada mereka.
Aku pun berdiam di dekat pohon. Badanku sangat lemas.
Setelah 15 menit berdiam diri, mengumpulkan keberanian untuk berbicara, aku pun kembali ke pos. Aku mengumumkan hal itu dan raut muka anak-anak itu berubah, begitu pula Kisha. Hal yang aku tidak inginkan, benar-benar terjadi.
“Kak, terus kita mau kemana?” Rino bertanya.
“Kita masih bisa belajar kan?” Ali menimpali.
“Dulu juga gak apa-apa kok sekarang gini sih?” Syifa yang tertua diantara yang lainnya, ikut berkomentar.
Aku hanya bisa tersenyum simpul, menutupi segala kesedihan yang ikut aku rasakan dengan mereka. Saat di dalam hati ini bersedih, aku tetap harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.
Aku pun akhirnya menenangkan mereka semua.
“Rino, kakak juga belum tahu. Kita cari bareng-bareng ya. Ali, ada atau gak ada tempat kita bakal terus belajar. Hmm, mungkin bapak-bapaknya merasa terganggu, Syif. Gak apa-apa, aku sama Kisha coba cari tempat ya. Kita semua berdoa buat yang terbaik.”
Suasana serentak berubah menjadi gaduh. Aku mencoba untuk tidak mendengar, tetapi tetap saja keluhan anak-anak ini masuk ke otak ku.
“Aku capek di gusur mulu”
“Aku juga! Apa salahnya belajar sih?”
“Ah ngeselin banget itu bapak gendut! Pengen aku pukul tapi takut mental”
“Capek tau mukulin orang gendut! Mending kita kasih jarum, terus di tusuk biar kempes”
Anak-anak itu tertawa dengan kencang. Semua ikut tertawa. Sebenarnya, aku sangat terhibur dengan lelucon mereka, tetapi karena aku tahu itu salah..
“Hush adik-adik gak boleh gitu..”
“Habisnya ngeselin sih kak!”
Kisha masih tertawa. Aku memberi kedipan kepadanya agar ia diam. Ia pun diam dan ikut mendengarkan aku bicara.
“Udah gak apa-apa. Jangan gitu lagi ya, gak baik menghina orang dari fisik. Lagian, orang gendut itu bukan balon yang bisa dikempesin lagi..” Aldi yang menyadari bahwa ia yang aku bicarakan di depan, tersipu malu. Aku melanjutkan kalimatku,
“Kita hari ini lanjutin belajar sampai jam 2 ya, artinya ada satu setengah jam lagi”
“Yaaaaahh” Mereka bersedih. Aku terharu akan semangat belajar mereka yang begitu tinggi.
“Kakak harus kuliah lagi niih hehe. Kan kakak masih belajar juga kaya kalian. Yaudah kita mulai yuk!”
 ☂☂☂☂☂


Pagi ini aku bangun dengan rasa tidak nyaman. Terbayang akan kata-kata hansip kemarin. Hanya 5 hari waktu yang aku punya untuk mencari tempat pengganti bagi anak-anak ini.
Mungkin, ayah dapat membantuku. Aku menghampiri ayah yang sedang duduk di teras.
“Yah, ayah bisa bantu aku gak?”
“Bantu apa Ra?”
Aku pun menjelaskan dengan panjang lebar. Tetapi raut muka ayah berubah.
“Ra, kamu tuh mbok ya urusin kuliah kamu dulu gitu. Ini semester 5 loh”
“Tapi yah, aku seneng urusin kaya gini. Lagian ini beramal juga kan yah?”
“Ayah tau, tapi ayah pikir mending kamu gak usah mikirin ini dulu deh. Belakangan ini ayah liat kamu juga kecapekan. Pulang malem habis kuliah bukannya makan dulu langsung masuk kamar. Mending kamu banyak-banyak istirahat deh”
“Aku gak bisa yah” Mataku memerah. Aku pun izin untuk kembali ke kamar.
Di dalam aku menangis dan menelpon Farah, sahabatku. Ia pun menenangkanku, dan berjanji akan membantuku.
Farah pun menjemputku di rumah. Kami pun mulai mencari tempat yang layak. Sebenarnya banyak tempat di Jakarta, tetapi jarang ada tempat yang lokasinya di Jakarta Utara. Kalaupun ada, tempat itu mahal harganya. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku mulai putus asa. Aku sadar, bahwa aku merasa seperti ikut digusur juga. Aku baru tersadar, saat ini aku merasakan apa rasanya menjadi rakyat yang kurang mampu. Yang dapat dengan mudah diusir oleh sekelompok orang yang kabarnya “butuh tempat itu dengan segera”. Diusir karena dianggap mengganggu, sedangkan mereka tidak tahu bagaimana sulitnya mencari tempat lain untuk ditinggali. Dengan uang yang terbatas, dengan kesulitan yang lebih.

☂☂☂☂☂

Hari Rabu itu datang. Rabu yang seharusnya menyenangkan, karena aku akan mengajari pelangiku dengan pelajaran IPA yang sangat mereka gemari. Semua itu hanya seharusnya. Karena hari ini adalah hari dimana tenggat waktu itu berakhir, dan aku belum juga menemukan tempat untuk di tempati.
Aku bergegas menuju pos pada pukul 9, dan sampai disana pada pukul 10 pagi. Aku melihat disana sudah ada bapak-bapak hansip, dan juga beberapa anak. Aku pun menghampiri bapak-bapak hansip.
“Pak, bisa beri saya waktu lagi gak pak? Saya bener-bener butuh tempat ini pak”
“Lah itu urusan kamu lah”
“Ayolah pak.. Tolong pak, beri saya waktu buat cari tempat lain..” Aku meminta dengan sangat.
“Gak bisa”
Suara petir menyambar. Rintik-rintik hujan mulai membasahi kami. Aku pun masuk ke pos hansip yang cukup besar itu.
“Tuh kan pak.. Hujan lagi sekarang. Ayo pak tolong..”
“Cuma sampe hujan ini berhenti”
Aku pun menyerah. Akhirnya aku duduk bersama anak-anak itu. Biasanya aku menunggu hujan reda dengan harapan bisa belajar lagi, sekarang aku hanya berharap hujan itu tak segera berhenti agar tempat ini masih dapat menjadi milik kami.

☂☂☂☂☂

Sudah seminggu setelah “penggusuran” itu terjadi. Sudah seminggu pula aku tidak mengajar mereka. Aku rindu pada mereka. Pada keluguan mereka, kelucuan mereka, canda tawa yang kami torehkan bersama, semangat mereka untuk belajar. Aku sayang mereka. Mereka memang pelangi yang selalu mewarnai hari-hariku. Dan tanpa mereka semakin hari, hariku semakin kelabu. Awan-awan hati ini butuh dihiasi oleh pelangi-pelangi indahnya itu.
Ayah seperti menyadari perubahan sikapku seminggu ini, karena ayah tiba-tiba menanyakanku.
“Gimana anak-anak jalanan yang kamu ceritain? Udah dapet tempat?”
“Belum yah. Cari tempat di Jakarta Utara susah yah, kan tempat Chinese gitu mahal..”
“Alhamdulillah..”
“Ih ayah kok gitu! Biar aku gak bisa ketemu anak-anak itu lagi ya?” Aku kesal pada ayah. Sangat kesal. Kenapa ayah pengen banget aku gak ketemu mereka? Cuma buat nilai?
“Eh Andalira, kamu jangan asal tuduh ayah kaya gini dong.. Maksud ayah itu alhamdulillah, karena temen ayah punya tempat di deket sana. Apalagi deket banget sama pos satpam yang pernah kamu kirim locationnya ke bbm ayah itu”
“Pos satpam tau yah! EH BENERAN NIH YAH? ADA TEMPAT BUAT KITA? BISA DIPAKE?” Aku sangat bersemangat mendengar apa yang baru saja ayah katakan.
“Beneran deh Ra, engga bercanda! Emangnya ayah tukang bercanda kaya Kevin? blee!”
“EH! Ngapain ngomongin dia lagi ayah iih itu masa lalu Aira!”
“Masa lalu apa masa lalu. Ayah tau kok dia masih suka deketin kamu, kamu juga kan! Ayah jodohin ah”
“Aduh, ayah kenapa jadi nyambung kesini orang mau bantuin anak-anak. Ayo balik ke konteks awal”
“Karena yang punya rumah itu ayahnya Kevin. Dan yang sekarang tinggal di rumah itu adalah Kevin. So? Berpikir untuk kembali Ra?
“AYAAAH!”
Aku pun tertawa. Ayah juga puas karena berhasil membuatku terpojok. Sekarang semuanya menyenangkan. Memang benar, selalu ada pelangi setelah hujan. Bersakit-sakit dahulu, dan bersenang-senang kemudian. Sekarang, sepertinya ayah sangat mendukungku untuk kembali mengajar anak-anak itu, kami punya tempat yang lebih baik, dan… Kevin?

SELESAI

HELLO AGAIN. THANKYOU SO MUCH FOR READING! I REALLY APPRECIATE IT. Bye, and see you when i see you!

Avie